Pendahuluan
Sungguh begitu mulianya sosok
seorang manusia apabila dibandingkan dengan mahluk Allah lainnya jika dilihat dari sisi
penciptaannya. Kemuliaan penciptaan manusia itu
dikarenakan hanya mahluk manusialah yang memiliki berbagai potensi dan
fasilitas dalam dirinya yang sempurna.
Berbagai potensi dan fasilitas dalam dirinya itu dipersiapkan sebagai sarana
untuk menunjang posisi dan peranannya di alam semesta yaitu sebagai ‘khalifah’.
Secara umum ada tiga bagian yang menjadi potensi dasar dari
penciptaan sosok seorang manusia, ketiga bagian tersebut merupakan fasilitas
dari Allah yang diberikan pada setiap diri manusia untuk selanjutnya agar dapat
digali dan diberdayakan untuk menunjang kelangsungan hidupnya. Potensi yang ada dalam setiap diri manusia itu adalah
meliputi potensi daya akal [mind],
potensi daya qalbu [soul] dan potensi
daya nafs/jasadi [body].
Potensi-potensi dasar itu secara fitrah memang memiliki kemampuan dan kekuatan yang sangat besar sekali, dengan memberdayakan kekuatan dan kemampuan
dayanya, maka manusia dapat berkiprah dan berprestasi dalam melaksanakan amanah dan tanggung jawab kehidupannya
sebagai khalifah, yaitu memakmurkan
alam sehingga sosoknya mampu menjadi rahmatan lil ‘alamin.
Kenyataannya tidak semua pribadi
menyadari dan memahami tentang potensi-potensi yang ada dalam dirinya tersebut, walaupun pada
hakekatnya semua itu merupakan bagian
dari fitrah dalam penciptaannya. Padahal dengan adanya potensi-potensi fitrah sedemikian itu, manusia dapat
mewujudkan kesempurnaan dan memperoleh derajat kemualiaannya. Melalui potensi
akal, manusia mampu mengembangkan pemikiran dan pemahamannya sehingga
melahirkan berbagai disiplin ilmu pengetahuan, dan mampu menciptakan berbagai
teknologi yang sangat bermanfaat dalam menunjang kehidupan dan memajukan
peradabannya.
Melalui ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia, maka
berbagai hal yang pada awalnya tersembunyi, kini dapat terungkap dan menjadi
terbuka. Banyak hikmah dan manfaat yang diperoleh dengan ilmu pengetahuan yang pada
hakekatnya terlahir dari kemampuan penyadaran dan pemberdayaan potensi
akal sebagai karunia Pencipta. Dengan akal, manusia bisa membedakan dan menarik
berbagai kesimpulan, dengan dengan akal pula kita dapat mengenal-Nya.
Potensi qalb [soul] mampu menjadikan manusia memiliki ‘sense’ [rasa]
dan ‘awareness’ [kesadaran] tentang
keberadaannya, tentang diri, sesama, alam
tempat dia berada dan juga tentang penciptanya.
Melalui qalb manusia mampu
mencerap nilai-nilai yang dapat menjadi keyakinan serta mendapatkan penyadaran
dan pemahaman dalam pemaknaan kehidupannya.
Melalui qalb ini pula manusia
akan mengetahui dan memahami asal penciptaannya, tugas dan kewajibannya, dan qalb ini menjadi jembatan untuk membangun
‘komunikasi’ dengan Pencipta.
Manusia diciptakan sebagai mahluk
social [homo socius], artinya manusia
hidup bersama dengan sesamanya membentuk jalinan dan tatanan kehidupannya.
Melalui hidup bersama dalam komunitasnya, manusia mengembangkan kemampuannya
untuk dapat berinteraksi, berkomunikasi dan bersosialisasi,membangun jalinan ukhuwah dan silaturahmi, kemampuan – kemampuan tersebut diperoleh seorang manusia dengan adanya potensi qalb
yang melahirkan keyakinan, kesadaran dan tanggung jawab terhadap diri, sesama,
alam dan penciptanya.
Dalam kehidupan sosial nya
manusia tidak hanya dituntut untuk mampu beradaptasi dengan lingkungan fisik
[alam] ataupun sosialnya, tetapi juga seorang manusia harus mampu untuk dapat
‘merasa ada dan memiliki’ komunitas atau kelompok dimana dia berada. Merasa
menjadi bagian dari komunitas atau kelompok sesamanya akan memunculkan sikap
dan tindakan saling menerima, menghargai ataupun berkompetisi [positif ataupun
negative].
Potensi jasadi [body] dalam pengertian potensi dorongan nafsu memberi peranan pada manusia untuk memiliki
keinginan, harapan, cita-cita dan berbagai bentuk sifat emosional lainnya, yang
pada hakekatnya semua itu akan menjadi
sarana untuk menuju derajat kemulian
hidup manusia juga, andai memang dapat dikelola dan diarahkan sesuai dengan
peruntukan dan ketentuan-Nya.
Dengan adanya potensi-potensi tersebut, manusia dapat berkiprah dalam
upaya mewujudkan tujuan-tujuan dan merealisasikan harapan-harapan kehidupannya.
Tujuan utama adalah memperoleh
kesuksesan dalam kehidupan di dunia dan dalam kehidupan pasca kehidupan dunia
ini. Kesuksesan hidup di dunia tentunya tidak hanya berkaitan dengan
terpenuhinya kebutuhan yang berkaitan dengan pemenuhan materiil, psikologis
atau social semata tetapi juga adanya keselarasan dengan nilai-nilai religi
yang sesuai dengan ketentuan dan arahan dari Pencipta.
Manusia sebagai mahluk yang diciptakan dengan maujud, sifat dan potensi-potensi yang dimilikinya adalah jelas berbeda dengan mahluk lainnya.
Manusia dalam kemaujudannya tidak hanya dipahami sebagai sosok materi yang
terwujud dari susunan rangka tulang belulang, otot, sistim syaraf dan kulit
saja, melainkan sosok manusia memiliki pula dimensi energi seperti dengan adanya
ruh, nafs ataupun qalb. Oleh karena itu memahami sosok
manusia tidak hanya pada sisi maujud fisik atau materi biologisnya semata,
tetapi manusia harus dipahami juga pada
sisi ghaib -nya[energi]. Bukankah
manusia itu terdiri dari tubuh dan ruh?
Hingga saat ini belum ada
pembahasan yang tuntas mengenai sosok mahluk manusia, masih begitu banyak hal
yang tidak diketahui dan menuntut untuk terus
digali. Mungkin hal demikian menjadi salah satu tanda dari keagungan
sang Pencipta yang dengan qudrat dan irodat-nya menciptakan mahluk manusia
yang diberi citra kesempurnaan penciptaannya itu.
Pelatihan Quantum Self-Programe
Sebagai tujuan dari pelaksanaan
kegiatan pelatihan ini tiada lain adalah untuk mencoba berupaya menggali dan membuktikan sebagian
kecil dari keagungan penciptaan sosok manusia dengan berbagai potensinya.
Kegiatan ini dirancang untuk menggali
dan memberdayakan potensi daya yang ada dalam
diri manusia, yaitu kekuatan
pikiran [mind power], kekuatan
kemauan [willpower] dan kekuatan keyakinan [beliefs power] yang
bertumpu pada upaya optimalisasi kekuatan pikiran dan kesadaran.
Salah satu dari kelebihan maujud manusia
adalah dengan adanya akal, dan dengan akal itu pula manusia mampu untuk dapat
berpikir. Pikiran yang dimunculkan manusia tentunya sebagai ‘produk’ dari
aktivitas dalam otak yang pada dasarnya ada karena adanya daya akal.
Akal yang menjadikan seseorang
memiliki kemampuan untuk berpikir, sedangkan otak merupakan media dimana daya
akal diproses menjadi sebuah pikiran. Jadi pikiran itu dapat dikatakan; bahwa
pada dasarnya merupakan ‘refleksi’
dari daya akal yang dimiliki seorang manusia.
Apakah mungkin seseorang mempunyai pikiran, andaikan dia tidak memiliki
daya akal? Atau apakah mungkin seseorang yang memiliki daya akal tetapi tidak
memiliki pikiran? Apakah mungkin
seseorang mempunyai pikiran walaupun tidak memiliki otak? Atau mungkinkah
seseorang tidak memiliki pikiran walaupun dia memiliki otak?
Akal dan pikiran dalam pengertiannya tidak disamakan
dengan otak. Tentunya banyak pengertian
dan batasan [definisi] mengenai akal dan pikiran sesuai dengan metoda,
pandangan dan disiplin keilmuannya. Untuk kepentingan dalam pemahaman disini, akal
dipahami sebagai sesuatu yang merujuk pada sebuah ‘esensi dari entitas’ yang
bersifat abstrak atau ghaib yang mampu menghasilkan pikiran. Sedangkan
pikiran dipahami sebagai sesuatu yang merupakan pengejewantahan [refleksi] dari daya akal, yang dengannya
kita mendapat pengetahuan sehingga mampu melakukan berbagai kegiatan nalar
seperti memberikan kategori, mengkalkulasi, mengambil konklusi,
mengidentifikasi, memvisualisasi atau menganalisa dan sebagainya. Sedangkan otak merupakan media dimana daya
akal diproses menjadi pikiran, aktivitas otak merupakan kegiatan yang sifatnya materiil dan otak serta sarana
pendukungnya merupakan wujud materi sebagai bagian dari jasad manusia.
Pikiran merupakan sesuatu hal
yang berkaitan dengan adanya gelombang otak [brain
wave] . Sedangkan hakekat dari pikiran itu sendiri bersifat abstrak dan
tidak dapat diukur, sedangkan gelombang otak dapat diukur dengan alat EEG.
Aktivitas pikiran dapat diketahui
sebagai rangkaian impuls-impuls
elektrik yang dipancarkan oleh milyaran cell [neuron] dalam otak yang
membentuk gelombang elektroneurologik. Gelombang elektroneurologik yang
memancar dalam otak iniliah yang dinamakan gelombang otak [brainwave]
dan memiliki kemampuan untuk mempengaruhi kimia tubuh [body chemistry] serta
mendorong lahirnya sikap , emosi dan perilaku tertentu. Sebagai sebuah manifestasi
bentuk gelombang listrik di otak, maka pikiranpun dapat diarahkan dan dipakai menjadi ‘alat’ yang ditujukan
pada pihak lain diluar dirinya sendiri,
misalnya seperti untuk keperluan hipnosis atau telepati atau dengan istilah
tenaga dalam [inner power].
Pikiran ternyata mampu
mengendalikan sikap dan perilaku seseorang, atau sebenarnya sikap dan perilaku
seseorang dikendalikan oleh apa yang dipikirkannya, dan telah banyak bukti mengenai hal ini dari berbagai
penelitian ilmiah modern. Pikiran itu sendiri kenyataannya dibagi kedalam dua
bagian besar yaitu yang dinamakan pikiran sadar [conscious mind] dan
pikiran bawah sadar [subconscious mind]. Pembagian pikiran disini tidak
dalam arti fisik atau materil, malainkan dalam pengertian fungsionalitasnya.
Bagian pikiran bawah sadar merupakan bagian terbesar dalam struktur pikiran
seseorang, diibaratkan sebagai sebuah fenomena gunung es yang terapung di
lautan, nampak dipermukaan kecil tetapi
di bagian dalam begitu besar dan tersembunyi.
Berdasarkan pada banyak hasil penelitian ilmiah modern,
ternyata pikiran bawah sadar inilah yang
sebenarnya mempengaruhi dan mengendalikan sikap dan perilaku seseorang. Hampir
88% sikap dan perilaku kita dikendalikan oleh pikiran bawah sadar dan sisanya
12% ada dalam kendali pikiran sadar.
Walaupun sebagian besar sikap dan
perilaku kita dikendalikan oleh pikiran bawah sadar, tetapi kita tidak
menyadari dan menganggap bahwa apa yang kita lakukan adalah sebagai sesuatu
yang disadari. Dalam kaitan ini maka
istilah kekuatan pikiran [mind power] sebagai sesuatu yang dapat dilatih
dan diberdayakan untuk kepentingan hidup, adalah mengacu pada upaya untuk
melatih dan mengendalikan kekuatan yang dimiliki oleh pikiran bawah sadar
seseorang.
Menyadari kondisi demikian, maka
pemberdayaan kekuatan pikiran [alam] bawah sadar untuk dapat menunjang dalam
pencapaian tingkat kesehatan, kesejahteraan dan keimanan adalah sesuatu yang diperlukan
agar tujuan dan harapan yang dimiliki seseorang dapat tercapai, yang
tentunya ini semua hanya sebagai bagian dari upaya secara manusiawi.
Akal, pikiran dan otak merupakan
bagian-bagian yang tidak dapat dipisahkan, ibarat akal dan pikiran itu adalah
sifat sedangkan otak merupakan hal yang disifati. Sifat merujuk pada makna
sedangkan yang disifati bisa menunjuk pada realita. Sebagai sebuah kesatuan, tentu kita menyadari
realitas dari keterkaitan antara akal, pikiran dan otak tersebut, walaupun
dalam kepentingan pembahasan lain
terkadang akal tidak selalu dikaitkan dengan otak. Untuk pengistilahan selanjutnya bahwa akal,
pikiran dan otak dipakai dengan sebutan potensi akal [akliyah] Jadi potensi akal terbagi dalam potensi yang
sifatnya materiil [otak] dan yang bersifat im-materiil [pikiran] serta potensi
yang sifatnya ghaib [akal]
Seperti yang tersampaikan dimuka
bahwa manusia pada dasarnya dan secara umum memiliki potensi akal, potensi qalb
dan potensi jasad. Ketiga potensi itu ada dan menempati ruang kemaujudan sosok
manusia, oleh karena itu ketiga potensi tersebut tentunya memiliki keterkaitan
antara satu dan yang lainnya. Keterkaitan ini merupakan sebuah keteraturan dari
sistem yang dianugerahkan sang Pencipta, antara satu potensi dan yang lainnya
mempunyai kemampuan untuk saling mempengaruhi dan saling melengkapi. Hal
demikian dimaklumi karena pada dasarnya Allah memberikan potensi-potensi ini sebagai
karunia adalah bertujuan untuk menjadikan manusia sebagai sosok yang ‘mulia’.
Metoda Quantum Self Programe [QSP] dalam upaya optimalisasi potensi
diri
Sebagai sebuah kesatuan, maka
upaya optimalisasi pada salah satu bagian potensi diri akan melibatkan
potensi-potensi diri yang lainnya, seperti halnya upaya optimalisasi kekuatan
pikiran [mind power], dalam upaya penggalian dan aktualisasi
pengolahannya tentunya melibatkan potensi lainnya seperti potensi qalbu atau potensi jasadi, atau potensi
dari kekuatan kemauan [willpower],
kekuatan keyakinan [beliefs power]
dan kesadaran. Hal demikian dilakukan karena dengan harapan bahwa upaya yang ditempuh agar dapat memberikan hasil
yang optimal serta tidak memunculkan dampak yang akan merugikan. Pendekatan
yang demikianlah yang dinamakan pendekatan dengan metoda QSP [Quantum
Self-Programe], sebuah upaya penggalian dan pemberdayaan potensi diri secara holistic, integral atau komprehensif.
Jadi, QSP merupakan metoda yang
bertumpu pada pemberdayaan potensi daya
akal, daya hati dan daya jasad
manusia untuk dipergunakan dalam kondisi pencegahan [preventive],
penanggulangan [curative] atau pemeliharaan dan optimalisasi [rehabilitative]
berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Dalam kaitannya dengan
upaya optimalisasi kekuatan pikiran [mind power], QSP menerapkan
berbagai tehnik yang simple,
aplikatif dan efektif serta aman. Tehnik untuk optimalisasi kekuatan pikiran
ini dinamakan ‘acceleration mind power’ [tehnik penyelarasan kekuatan
pikiran].
QSP pada dasarnya adalah sebuah model upaya
untuk memiliki kemampuan kendali terhadap pikiran bawah sadar sehingga kekuatan
pikiran bawah sadar tersebut mampu diarahkan untuk mewujudkan keinginan dan impian
dalam upaya meraih kesehatan, kedamaian, kesejahteraan, kebahagiaan, dan
keimanan.
Kemampuan mengendalikan dan
mengarahkan kekuatan pikiran bawah sadar tersebut dinamakan sebagai kemampuan
penyelarasan dan sinkronisasi kekuatan
pikiran. Untuk mampu melakukan akselerasi dan sinkronisasi kekuatan pikiran
bawah sadar ini ditempuh melalui tehnik meditasi penyadaran [awareness meditation], penegasan [afirmasi], penggambaran [visualisasi] dan rangsangan manipulasi
gelombang otak [brainware entrainment]. Tehnik-tehnik tersebut dipadukan
dengan tehnik dan metoda dasar seni gerak dan nafas.
Melalui metoda dan tehnik yang
dikembangkan dalam QSP, hasil yang
dicapai merupakan sebuah percepatan [acceleration] untuk dapat
mengoptimalkan kekuatan pikiran [mind power] bawah sadar yang lebih
efektif dan praktis. Memberikan manfaat yang efektif dalam mengatasi gangguan
kesehatan fisik atau psikis seperti gangguan insomnia [sulit tidur], migraine,
stress, kecemasan [anxiety],
tidak percaya diri, meningkatkan kemampuan IQ, EQ, SQ, meningkatkan konsentrasi
dan kendali diri, mengatasi penyakit jantung, asma, kepentingan beladiri [self defense] dan sebagainya. Selain
itu metoda ini diarahkan untuk mampu membuat upaya tentang sesuatu yang menjadi
tujuan dan diharapkan dalam kehidupan, serta mampu diwujudkan menjadi sebuah
kenyataan.
Jadi, melalui pendekatan kegiatan
pelatihan ini akan diperoleh manfaat untuk mencegah, mengatasi dan mengobati
gangguan masalah kesehatan fisik dan psikis, juga mampu untuk melakukan ‘pemograman’ [re-programming] kekuatan
pikiran bawah sadar untuk meraih kesuksesan dalam kehidupan kini dan nanti.
Kesuksesan tidak selamanya dipandang dari sisi kepemilikan materi semata.
Kesuksesan mempunyai banyak arti tergantung dari sudut mana kita memandangnya.
Kesuksesan disini adalah kebarokahan, bukan pencapaian materil semata.
Tentunya kekuatan pikiran menjadi
daya yang mampu memberikan pencapaian terhadap tujuan dan harapan dalam
kehidupan ini, hanya dengan qudrat,
irodat dan ridlo-Nya jua. Wallahu ‘alam bishawab.
‘………kuasai pikiran anda, maka anda akan menguasai kehidupan
anda………’

Tidak ada komentar:
Posting Komentar