Senin, 12 Desember 2011

POTENSI DIRI


Pendahuluan

Sungguh begitu mulianya sosok seorang manusia apabila dibandingkan dengan mahluk  Allah lainnya jika dilihat dari sisi penciptaannya. Kemuliaan penciptaan manusia itu  dikarenakan hanya mahluk manusialah yang memiliki berbagai potensi dan fasilitas  dalam dirinya yang sempurna. Berbagai potensi dan fasilitas dalam dirinya itu dipersiapkan sebagai sarana untuk menunjang posisi dan peranannya di alam semesta yaitu sebagai ‘khalifah’.
Secara umum ada tiga  bagian yang menjadi potensi dasar dari penciptaan sosok seorang manusia, ketiga bagian tersebut merupakan fasilitas dari Allah yang diberikan pada setiap diri manusia untuk selanjutnya agar dapat digali dan diberdayakan untuk menunjang kelangsungan hidupnya. Potensi  yang ada dalam setiap diri manusia itu adalah meliputi potensi daya akal [mind], potensi daya qalbu [soul] dan potensi daya nafs/jasadi [body].  
Potensi-potensi dasar itu secara fitrah memang memiliki kemampuan dan  kekuatan yang sangat besar sekali,  dengan memberdayakan kekuatan dan kemampuan dayanya, maka manusia dapat berkiprah dan berprestasi dalam melaksanakan amanah dan tanggung jawab kehidupannya sebagai khalifah, yaitu memakmurkan alam sehingga sosoknya  mampu menjadi rahmatan lil ‘alamin.
Kenyataannya tidak semua pribadi menyadari dan memahami tentang potensi-potensi yang  ada dalam dirinya tersebut, walaupun pada hakekatnya semua itu merupakan  bagian dari fitrah dalam penciptaannya.  Padahal dengan adanya potensi-potensi fitrah sedemikian itu, manusia dapat mewujudkan kesempurnaan dan memperoleh derajat kemualiaannya. Melalui potensi akal, manusia mampu mengembangkan pemikiran dan pemahamannya sehingga melahirkan berbagai disiplin ilmu pengetahuan, dan mampu menciptakan berbagai teknologi yang sangat bermanfaat dalam menunjang kehidupan dan memajukan peradabannya.
Melalui  ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia, maka berbagai hal yang pada awalnya tersembunyi, kini dapat terungkap dan menjadi terbuka. Banyak  hikmah dan manfaat yang diperoleh dengan ilmu pengetahuan yang  pada  hakekatnya terlahir dari kemampuan penyadaran dan pemberdayaan potensi akal sebagai karunia Pencipta. Dengan akal, manusia bisa membedakan dan menarik berbagai kesimpulan, dengan dengan akal pula kita dapat mengenal-Nya.
Potensi qalb [soul] mampu menjadikan manusia memiliki ‘sense’ [rasa] dan ‘awareness’ [kesadaran] tentang keberadaannya,  tentang diri, sesama, alam tempat dia berada dan juga tentang penciptanya.  Melalui qalb manusia mampu mencerap nilai-nilai yang dapat menjadi keyakinan serta mendapatkan penyadaran dan pemahaman dalam pemaknaan kehidupannya.   Melalui qalb ini pula manusia akan mengetahui dan memahami asal penciptaannya, tugas dan kewajibannya, dan qalb ini menjadi jembatan untuk membangun ‘komunikasi’ dengan Pencipta.
Manusia diciptakan sebagai mahluk social [homo socius], artinya manusia hidup bersama dengan sesamanya membentuk jalinan dan tatanan kehidupannya. Melalui hidup bersama dalam komunitasnya, manusia mengembangkan kemampuannya untuk dapat berinteraksi, berkomunikasi dan bersosialisasi,membangun jalinan ukhuwah dan silaturahmi, kemampuan – kemampuan tersebut diperoleh  seorang manusia dengan adanya potensi  qalb yang melahirkan keyakinan, kesadaran dan tanggung jawab terhadap diri, sesama, alam dan penciptanya.
Dalam kehidupan sosial nya manusia tidak hanya dituntut untuk mampu beradaptasi dengan lingkungan fisik [alam] ataupun sosialnya, tetapi juga seorang manusia harus mampu untuk dapat ‘merasa ada dan memiliki’ komunitas atau kelompok dimana dia berada. Merasa menjadi bagian dari komunitas atau kelompok sesamanya akan memunculkan sikap dan tindakan  saling menerima, menghargai  ataupun berkompetisi [positif ataupun negative].
Potensi jasadi [body]  dalam pengertian potensi dorongan nafsu  memberi peranan pada manusia untuk memiliki keinginan, harapan, cita-cita dan berbagai bentuk sifat emosional lainnya, yang pada hakekatnya semua itu  akan menjadi sarana untuk menuju derajat  kemulian hidup manusia juga, andai memang dapat dikelola dan diarahkan sesuai dengan peruntukan dan ketentuan-Nya.
Dengan adanya potensi-potensi tersebut, manusia dapat berkiprah dalam upaya mewujudkan tujuan-tujuan dan merealisasikan harapan-harapan kehidupannya.  Tujuan utama adalah memperoleh kesuksesan dalam kehidupan di dunia dan dalam kehidupan pasca kehidupan dunia ini. Kesuksesan hidup di dunia tentunya tidak hanya berkaitan dengan terpenuhinya kebutuhan yang berkaitan dengan pemenuhan materiil, psikologis atau social semata tetapi juga adanya keselarasan dengan nilai-nilai religi yang sesuai dengan ketentuan dan arahan dari Pencipta.
Manusia  sebagai mahluk  yang diciptakan dengan  maujud, sifat dan  potensi-potensi yang dimilikinya  adalah jelas berbeda dengan mahluk lainnya. Manusia dalam kemaujudannya tidak hanya dipahami sebagai sosok materi yang terwujud dari susunan rangka tulang belulang, otot, sistim syaraf dan kulit saja, melainkan sosok manusia memiliki pula dimensi energi seperti dengan adanya ruh, nafs ataupun qalb. Oleh karena itu memahami sosok manusia tidak hanya pada sisi maujud fisik atau materi biologisnya semata, tetapi manusia harus dipahami  juga pada sisi ghaib -nya[energi]. Bukankah manusia itu terdiri dari tubuh dan ruh?
Hingga saat ini belum ada pembahasan yang tuntas mengenai sosok mahluk manusia, masih begitu banyak hal yang tidak diketahui dan menuntut untuk terus  digali. Mungkin hal demikian menjadi salah satu tanda dari keagungan sang Pencipta yang dengan qudrat dan irodat-nya menciptakan mahluk manusia yang diberi citra kesempurnaan penciptaannya itu. 

Pelatihan Quantum Self-Programe
Sebagai tujuan dari pelaksanaan kegiatan pelatihan ini tiada lain adalah untuk mencoba  berupaya menggali dan membuktikan sebagian kecil dari keagungan penciptaan sosok manusia dengan berbagai potensinya. Kegiatan  ini dirancang untuk menggali dan memberdayakan potensi daya yang ada dalam  diri manusia,  yaitu kekuatan pikiran [mind power], kekuatan kemauan [willpower] dan kekuatan keyakinan [beliefs power] yang bertumpu pada upaya optimalisasi kekuatan pikiran dan kesadaran.
Salah satu dari kelebihan maujud manusia adalah dengan adanya akal, dan dengan akal itu pula manusia mampu untuk dapat berpikir. Pikiran yang dimunculkan manusia tentunya sebagai ‘produk’ dari aktivitas dalam otak yang pada dasarnya ada karena adanya daya akal.
Akal yang menjadikan seseorang memiliki kemampuan untuk berpikir, sedangkan otak merupakan media dimana daya akal diproses menjadi sebuah pikiran. Jadi pikiran itu dapat dikatakan; bahwa pada dasarnya merupakan ‘refleksi’ dari daya akal yang dimiliki seorang manusia.  Apakah mungkin seseorang mempunyai pikiran, andaikan dia tidak memiliki daya akal? Atau apakah mungkin seseorang yang memiliki daya akal tetapi tidak memiliki pikiran?  Apakah mungkin seseorang mempunyai pikiran walaupun tidak memiliki otak? Atau mungkinkah seseorang tidak memiliki pikiran walaupun dia memiliki otak?
Akal dan pikiran  dalam pengertiannya tidak disamakan dengan  otak. Tentunya banyak pengertian dan batasan [definisi] mengenai akal dan pikiran sesuai dengan metoda, pandangan dan disiplin keilmuannya. Untuk kepentingan dalam pemahaman disini, akal dipahami sebagai sesuatu yang merujuk pada sebuah ‘esensi dari entitas’ yang bersifat abstrak atau ghaib yang mampu menghasilkan pikiran. Sedangkan pikiran dipahami sebagai sesuatu yang merupakan pengejewantahan [refleksi] dari daya akal, yang dengannya kita mendapat pengetahuan sehingga mampu melakukan berbagai kegiatan nalar seperti memberikan kategori, mengkalkulasi, mengambil konklusi, mengidentifikasi, memvisualisasi atau menganalisa dan sebagainya.  Sedangkan otak merupakan media dimana daya akal diproses menjadi pikiran, aktivitas otak merupakan kegiatan yang sifatnya materiil dan otak serta sarana pendukungnya merupakan wujud materi sebagai bagian dari jasad manusia.
Pikiran merupakan sesuatu hal yang berkaitan dengan adanya gelombang otak [brain wave] . Sedangkan hakekat dari pikiran itu sendiri bersifat abstrak dan tidak dapat diukur, sedangkan gelombang otak dapat diukur dengan alat EEG.
Aktivitas pikiran dapat diketahui sebagai rangkaian impuls-impuls elektrik yang dipancarkan oleh milyaran cell [neuron] dalam otak yang membentuk gelombang elektroneurologik. Gelombang elektroneurologik   yang  memancar dalam otak iniliah yang dinamakan gelombang otak [brainwave] dan memiliki kemampuan untuk mempengaruhi kimia tubuh [body chemistry] serta mendorong lahirnya sikap , emosi dan perilaku tertentu. Sebagai sebuah manifestasi bentuk gelombang listrik di otak, maka pikiranpun  dapat diarahkan dan  dipakai menjadi ‘alat’ yang ditujukan pada pihak lain diluar  dirinya sendiri, misalnya seperti untuk keperluan hipnosis atau telepati atau dengan istilah tenaga dalam [inner power].
Pikiran ternyata mampu mengendalikan sikap dan perilaku seseorang, atau sebenarnya sikap dan perilaku seseorang dikendalikan oleh apa yang dipikirkannya, dan telah  banyak bukti mengenai hal ini dari berbagai penelitian ilmiah modern. Pikiran itu sendiri kenyataannya dibagi kedalam dua bagian besar yaitu yang dinamakan pikiran sadar [conscious mind] dan pikiran bawah sadar [subconscious mind]. Pembagian pikiran disini tidak dalam arti fisik atau materil, malainkan dalam pengertian fungsionalitasnya. Bagian pikiran bawah sadar merupakan bagian terbesar dalam struktur pikiran seseorang, diibaratkan sebagai sebuah fenomena gunung es yang terapung di lautan,  nampak dipermukaan kecil tetapi di bagian dalam begitu besar dan tersembunyi.
Berdasarkan pada  banyak hasil penelitian ilmiah modern, ternyata  pikiran bawah sadar inilah yang sebenarnya mempengaruhi dan mengendalikan sikap dan perilaku seseorang. Hampir 88% sikap dan perilaku kita dikendalikan oleh pikiran bawah sadar dan sisanya 12% ada dalam kendali pikiran sadar.
Walaupun sebagian besar sikap dan perilaku kita dikendalikan oleh pikiran bawah sadar, tetapi kita tidak menyadari dan menganggap bahwa apa yang kita lakukan adalah sebagai sesuatu yang disadari.  Dalam kaitan ini maka istilah kekuatan pikiran [mind power] sebagai sesuatu yang dapat dilatih dan diberdayakan untuk kepentingan hidup, adalah mengacu pada upaya untuk melatih dan mengendalikan kekuatan yang dimiliki oleh pikiran bawah sadar seseorang.
Menyadari kondisi demikian, maka pemberdayaan kekuatan pikiran [alam] bawah sadar untuk dapat menunjang dalam pencapaian tingkat kesehatan, kesejahteraan dan keimanan adalah sesuatu yang  diperlukan  agar tujuan dan harapan yang dimiliki seseorang dapat tercapai, yang tentunya ini semua hanya sebagai bagian dari upaya secara manusiawi.
Akal, pikiran dan otak merupakan bagian-bagian yang tidak dapat dipisahkan, ibarat akal dan pikiran itu adalah sifat sedangkan otak merupakan hal yang disifati. Sifat merujuk pada makna sedangkan yang disifati bisa menunjuk pada realita.  Sebagai sebuah kesatuan, tentu kita menyadari realitas dari keterkaitan antara akal, pikiran dan otak tersebut, walaupun dalam kepentingan pembahasan  lain terkadang akal tidak selalu dikaitkan dengan otak.  Untuk pengistilahan selanjutnya bahwa akal, pikiran dan otak dipakai dengan sebutan potensi akal [akliyah]  Jadi potensi akal terbagi dalam potensi yang sifatnya materiil [otak] dan yang bersifat im-materiil [pikiran] serta potensi yang sifatnya ghaib [akal]
Seperti yang tersampaikan dimuka bahwa manusia pada dasarnya dan secara umum memiliki potensi akal, potensi qalb dan potensi jasad. Ketiga potensi itu ada dan menempati ruang kemaujudan sosok manusia, oleh karena itu ketiga potensi tersebut tentunya memiliki keterkaitan antara satu dan yang lainnya. Keterkaitan ini merupakan sebuah keteraturan dari sistem yang dianugerahkan sang Pencipta, antara satu potensi dan yang lainnya mempunyai kemampuan untuk saling mempengaruhi dan saling melengkapi. Hal demikian dimaklumi karena pada dasarnya Allah memberikan potensi-potensi ini sebagai karunia adalah bertujuan untuk menjadikan manusia sebagai sosok yang ‘mulia’. 

Metoda Quantum Self Programe [QSP] dalam upaya optimalisasi potensi diri
Sebagai sebuah kesatuan, maka upaya optimalisasi pada salah satu bagian potensi diri akan melibatkan potensi-potensi diri yang lainnya, seperti halnya upaya optimalisasi kekuatan pikiran [mind power], dalam upaya penggalian dan aktualisasi pengolahannya tentunya melibatkan potensi lainnya seperti potensi qalbu atau potensi jasadi, atau potensi dari kekuatan kemauan [willpower], kekuatan keyakinan [beliefs power] dan kesadaran. Hal demikian dilakukan karena dengan harapan bahwa upaya  yang ditempuh agar dapat memberikan hasil yang optimal serta tidak memunculkan dampak yang akan merugikan. Pendekatan yang demikianlah yang dinamakan pendekatan dengan metoda QSP [Quantum Self-Programe], sebuah upaya penggalian dan pemberdayaan potensi diri secara holistic, integral atau komprehensif.
Jadi, QSP merupakan metoda yang bertumpu pada pemberdayaan  potensi daya akal,  daya hati dan daya jasad manusia  untuk dipergunakan dalam kondisi  pencegahan [preventive], penanggulangan [curative] atau pemeliharaan dan optimalisasi [rehabilitative] berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Dalam kaitannya dengan upaya optimalisasi kekuatan pikiran [mind power], QSP menerapkan berbagai tehnik yang simple, aplikatif dan efektif serta aman. Tehnik untuk optimalisasi kekuatan pikiran ini dinamakan ‘acceleration mind power’ [tehnik penyelarasan kekuatan pikiran].
QSP  pada dasarnya adalah sebuah model upaya untuk memiliki kemampuan kendali terhadap pikiran bawah sadar sehingga kekuatan pikiran bawah sadar tersebut mampu diarahkan untuk mewujudkan keinginan dan impian dalam upaya meraih kesehatan, kedamaian, kesejahteraan, kebahagiaan, dan keimanan.
Kemampuan mengendalikan dan mengarahkan kekuatan pikiran bawah sadar tersebut dinamakan sebagai kemampuan penyelarasan  dan sinkronisasi kekuatan pikiran. Untuk mampu melakukan akselerasi dan sinkronisasi kekuatan pikiran bawah sadar ini ditempuh melalui tehnik meditasi penyadaran [awareness meditation], penegasan [afirmasi], penggambaran [visualisasi] dan rangsangan manipulasi gelombang otak [brainware entrainment]. Tehnik-tehnik tersebut dipadukan dengan tehnik dan metoda dasar seni gerak dan nafas.
Melalui metoda dan tehnik yang dikembangkan dalam QSP,  hasil yang dicapai merupakan sebuah percepatan [acceleration] untuk dapat mengoptimalkan kekuatan pikiran [mind power] bawah sadar yang lebih efektif dan praktis. Memberikan manfaat yang efektif dalam mengatasi gangguan kesehatan fisik atau psikis seperti gangguan insomnia [sulit tidur], migraine, stress, kecemasan [anxiety], tidak percaya diri, meningkatkan kemampuan IQ, EQ, SQ, meningkatkan konsentrasi dan kendali diri, mengatasi penyakit jantung, asma, kepentingan beladiri [self defense] dan sebagainya. Selain itu metoda ini diarahkan untuk mampu membuat upaya tentang sesuatu yang menjadi tujuan dan diharapkan dalam kehidupan, serta mampu diwujudkan menjadi sebuah kenyataan.
Jadi, melalui pendekatan kegiatan pelatihan ini akan diperoleh manfaat untuk mencegah, mengatasi dan mengobati gangguan masalah kesehatan fisik dan psikis, juga mampu untuk melakukan ‘pemograman’ [re-programming] kekuatan pikiran bawah sadar untuk meraih kesuksesan dalam kehidupan kini dan nanti. Kesuksesan tidak selamanya dipandang dari sisi kepemilikan materi semata. Kesuksesan mempunyai banyak arti tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Kesuksesan disini adalah kebarokahan, bukan pencapaian materil semata.
Tentunya kekuatan pikiran menjadi daya yang mampu memberikan pencapaian terhadap tujuan dan harapan dalam kehidupan ini, hanya dengan qudrat, irodat dan ridlo-Nya jua. Wallahu ‘alam bishawab.

‘………kuasai pikiran anda, maka anda akan menguasai kehidupan anda………’